LIKU – LIKU MENITI KAMPUNG ADAT SUKU BADUY DALAM Oleh : Mar’ah Sapitri
LIKU – LIKU MENITI KAMPUNG ADAT SUKU BADUY DALAM
Oleh : Mar’ah Sapitri
Suku Baduy dalam …ya suku Baduy dalam, terbersit di benaku suatu suku yang unik dan langka, karena mereka lebih nengedapankan kesedehanaan, kejujuran dan patuh terhadap aturan – aturan adat karuhun. Bahkan kampung mereka terpercil di atas bukit nan jauh dari keramaian kota, dan jauh dari hal – hal yang besifat modern.
Pada tanggal 1 November 2025 kamipun mahasiswa S2 PGSI Paramadina berangkat menuju kampung unik tersebut.
Dalam perjalanan Jakarta – ciboleger tak ada kendala yang berarti kami happy selama perjalanan bahkan sambil karokean.
Sampai di Ciboleger sekitar pukul 12.15 kamipun istirahat dan makan siang sekaligus sholat dhuhur di rumah guide ( pak Asep Kurnia ) yang sering dipanggil pak Askur.
setelah beres makan dan sholat kamipun melanjutkan perjalanan ke Binong Raya sekitar 2 jam perjalanan. Di sini ibu Yuliana mulai mabuk dan muntah – muntah karena jauhnya perjalanan dan jalan yang berbelok – belok.
Kamipun berhenti sejenak untuk beli obat dan snack yang di sponsori oleh bapak prayitno yang begitu dermawan dan baik hati serta tidak sombong. Hehe berkah selalu ya pak dir.
Dirasa mendingan kamipun melanujtkan perjalanan menuju binong raya, alhamdulillah sampai dengan selamat sekitar jam 03.30.
Kamipun langsung disambut oleh Masyarakat Baduy Dalam, bahkan oleh kokolot – kokolotnya yaitu jaro tangtu sepuh Ci Beo ( Jaro Sami ) , jaro tangtu nu jeneng ( jaro Kasip ) kasepuhan jaro tangtu Cikartawana ( Bapak jaro Damin ), jubir Baduy Dalam / parawari ( ayah Mursyid ) dan bengkong baduy ( ayah armah ).
Serah terima bansospun dilaksanakan dengan sangat sederhana dilanjut dengan bicang – bincang ringan terkait adat dan budaya baduy dalam. Selanjutnya langsung berangkat ke baduy dalam di kawal oleh para guide yang setia menemani.
Singkat cerita perjalananpun di mulai dari binong raya ke baduy dalam dengan penuh rintangan dan tantangan, keringatpun mulai bercucuran tapi semangat untuk menapaki baduy dalam tetap membara di dada, rasa Lelah letihpun terkalahkan oleh semangat yang begitu menggebu.
Sesekali kamipun berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga dan mengatur nafas yang mulai tersengal karena medan yang begitu ekstrim dan menanjak. Sampailah ke jembatan bambu pertama, yaitu jembatan perbatasan antara baduy luar dan baduy dalam, yang begitu pajang dan curam, hati ini sebenarnya bergetar antara takut dan ingin cepat sampai ahirnya alhamdulillah sampai juga di penghujung jembatan, namun tidak untuk temanku yang satu ini, ibu Lia Lesmana Namanya. Karena takut ketinggian beliau berteriak – teriak ingin Kembali lagi, namun berkat dorongan, motivasi dan bantuan dari rekan – rekan semua khususnya pak Prayitno ahirnya sampai juga dipenghujung jembatan.
Tak hanya sebatas itu ternyata rintangan – rintangan lain masih menanti di depan, ini adalah giriranku yang hampir pingsan karena gak kuat naik, lutut sudah mulai gemetar tenggorokan kering mata mulai kabur namun ada bapak guide yang entah siapa Namanya dan ust taufik yang selalu menemani alhamdulillah bisa menyebrangi jembatan 2 dan tiga dengan selamat dan ahirnya sampai di baduy dalam tepat jam 18.00.
Aku menjatuhkan diri di pelupuh bambu sambil seraya mengucap Syukur kepada Allah SWT. atas kekuatan dan keselamatan hingga ahirnya sampai di tempat tujuan. Selang beberapa menit kamipun berangkat ke air dengan mengguankan senter alakarnya. Karena suasana yang begitu gelap gulita, tak ada Listrik ataupun lampu petromak yang ada hanya lampu terbuat dari kafas yang dikasih minyak sayur seadanya yang hanya bisa menerangi ruangan rumah.
Sampai di kali kami kebingungan, karena harus nyeebur ke Sungai untuk sekedar kencing ataupun mandi, itupun tidak boleh pake sabun, shampoo, odol dan lainnya karena akan mencemari air.
Selesai dari kali kamipun mulai bincang – bincang hangat dengan teman dan warga sekitar, selang beberapa menit nasipun matang dan kamipun dipersilahkan untuk makan bersama dosen dan warga. Selanjutnya setelah makan meneruskan bincang – bincang sambil minum kopi yang disuguhkan dengan cangkir yang alami yang terbuat dari ruas pohon bambu.
Sekitar jam 22.00 kamipun langsung istirahat dengan tidak beralaskan kasur seperti yang di rumah, hanya alas tikar dan bantal. Awalnya badan sakit dan tidak bisa tidur namun lama – kelamaan karena capek dan Lelah ahirnya tertidur juga.
Sekitar jam 12.30 aku terbangun karena pengen kencing, dengan terpaksa aku bangunkan bu Aan Hasanah untuk menemani, alhamdulilah beliau mau menemani. Lanjut ke kali dengan senter alakadanya dan ketika balik lagi kamipun nyasar tidak tahu rumah yang kami tempati, untung ada warga melihat kami dan menujukan jalan menuju penginapan.
Pada jam 04.00 pagi kamipun sudah bangun dan siap – siap ke air langsung mandi di kali. Setelah selesai kembali ke penginapan dan siap – siap beres – bees untuk persipan pulang.
Badrek gratis angetpun disiapin tuan rumah, di temani uli bu Lia, kremes dan kue cincin bu zizah serta singkong rebus pulen dari warga. Kehangatan begitu tersa antar warga, dosen dan teman – teman semua.
Sektar jam 08.00 kamipun berpamitan untuk pulang langsung diantar oleh ayah mursyid dan warga – warga yang lainnya untuk membawakan barang bawaan kami. Singkat cerita alhamdulillah sampai di Binong raya pukul 09.30.
Kamipun suan Kembali ke warga baduy yang begitu lugu, polos dan jauh dari hingar binger kemerlap dunia. Mereka begitu alami, mereka bisa berbaur dengan alam, dan merekalah yang sebenarnya menjaga alam karena mereka tetap taat dan patuh melaksanakan amanat wiwitan dengan filosofi “ lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung, gunung teu meunang di lebur, lebak teu menang dilakrak, buyut teu meunang dirobah, mun ngadek kudu saclekna, mun neukteuk kudu sateukna, mun nilas kudu saplasna, mun ngomong kudu sapokna, nu lain dilainkeun, nu enya dienyakeun,ulah gorok ulah linyok,ulah monteng kanu koneng, ulah cuet kanu hideung, ulah mihak.’ Artinya kalo Panjang tidak boleh di potonng, pendek tidak boleh disambung, gunung tidak boleh di hancurkan, Lembah tidak boleh di rusak, buyut tidak boleh di rubah, kalau menyebat/atau menebang harus sepasnya, kalo memotong harus sesuai ukurannya, kalau mengelupaskan harus sepasnya, kalau bicara apa adanya, yang salah dinyatakan salah yang benar dinyatakan benar, tidak boleh menipu dan berbohong, tidak boleh memihak.”
Filosofi ini menurutku filosofi yang penuh dengan sarat makna kesederhanaan, kejujuran dan kepatuhan terhadap aturan – aturan adat. Bukan berarti mereka tidak mau seperti kita, punya kendaraan, punya hp, punya berbagai macam elektronik dan lainnya tapi mereka tahan untuk mempertahan aturan adat.
Dari perjalanan meniti kampung Baduy dalam ini, banyak hal bisa kita pelajari di sini, tetap bersyukur dengan keadaan, jangan banyak mengeluh, perbaiki diri terutama hati agar senantiasa menyatu dengan Ilahi, makan dan minum sesuai takaran dan aturan, mencari rizqi sesuai aturan menfkahi anak istri sesuai syariat dan aturan, karena sedatinya makanan yang kita makan dan minuman yang kita minum akan mengalir dalam tubuh kita sampai ajal menjemput dan akan dipertanggung jawabkan kelak dimahkamah agung yang semua orang tidak bisa lari dari hukuman tersebut.
Terimakasih kaprodi ( Dr. Mohammad Subhi, S.Ag., M.Hum.) yang telah menjembatani kami untuk bisa meniti kampung adat suku baduy dalam, jugak kepada Dr. Sunaryo, S.S., M.Hum, kepada Dr.Phil Suratno, S.Fil., M.A dan juga Dr Husain Heriyanto, S.TP., M.Fil, yang selalu membingbing dan menemani kami dari mulai berangkat sampai pulang.
Buat teman – teman, kalian semua adalah keluarga keduaku, tempat curhatanku, tempat bercandaku dan kalian adalah motivatorku, salam untuk semuanya semoga perjalanan ini tidak sebatas di baduy dalam tapi semoga masih tetap berlanjut sampai kapanpun aamiin….





Komentar
Posting Komentar